Site Loader

Terjadinya demo yang dilakukan oleh para mahasiswa dan juga buruh ini membuat banyak sekali peristiwa yang terjadi dan hal – hal yang membuat fasilitas umum menjadi rusak. Mulai dari tempat umum yang dibakar, lalu alatt – alat seperti pembatas jalan dan yang lainnya ikut dirusak. Ini tentunya menjadi perhatian dan sorotan oleh para pemerintah dan juga warga net, yang menganggap bahwa aksi dari demo tersebut anarkis. Karena sampai merusak dan membakar beberapa fasilitas umum, yang di mana membuat kegaduhan yang menyeramkan. Mereka mengharapkan bahwa demo itu harusnya dapat berjalan  aman, tertib dan damai tidak sampai dengan menghancurkan fasilitas – fasilitas umum yang ada.

Tetapi sebagian orang mengatakan bahwa apa yang sudah terjadi, yaitu kerusakan dari fasilitas umum yang ada itu bukanlah dari para mahasiswa yang melakukannya. Melainkan para oknum yang tidak bertanggung jawab,  masuk ke dalam barisan para mahasiswa yang memberikan kegaduhan dan juga memprovokasi. Sehingga mereka mengatakan bahwa aksi dari demo yang dilakukan itu ditunggangi, seakan – akan yang melakukan hal demikian adalah para mahasiswa. Padahal para mahasiswa sudah sepakat untuk tidak melakukan hal demikian, apalagi sampai dengan merusak fasilitas umum yang ada.

Demo yang terjadi bukan hanya di DKI Jakarta saja, tetapi dibeberapa kota besar yang berada di Indonesia. Mereka memiliki satu tujuan yaitu untuk menolak UU Cipta kerja, yang mana UU tersebut sudah diresmikan dibeberapa hari yang lalu. Ini membuat emosi dari para buruh terutamanya yang menganggap bahwa UU yang baru diresmikannya ini oleh para DPR akan merugikan pihak buruh. Dan mahasiswa disini membantu menyuarakan para suara rakyat kecil yang di mana tidak dapat melakuka aksi demo. Demo – demo yang dilakukan membuat beberapa jalan menjadi ditutup, karena situasi dan kondisi yang benar – benar tidak aman untuk dilalui oleh orang – orang umum yang melaluinya.

Sedang berada disituasi demo tentunya emosi benar – benar tidak menentu, membuat orang menjadi mudah marah dan terprovokasi dengan kata – kata orang. Jadi tidak dapat mencerna perkataan seseorang dengan baik dan bisa menjadi terbawa alur dan terprovokasi dengan mudahnya. Salah satunya adalah kasus yang dialami oleh dosen yang berasal dari perguruan tinggi swasta di kota Makassar. Dia ditangkap oleh aparat kepolisian, yang dimana ini merupakan kasus salah penangkapan yang terjadi. Karena menganggap bahwa dosen ini merupakan pendemo yang mengikuti aksi ini, sehingga polisi menangkap dirinya dan dosen ini mendapatkan kekerasan fisik pada tubuhnya. Ini membuatnya mendapatkan cidera lebam yang berada pada tubuhnya. Padahal dia sudah memberitahu pada polisi lengkap dengan keterangannya bahwa dia bukanlah seorang demonstran.

“Saya hanya kebetulan di sini terjebak. Saya mau nge-print. Saya tunjukkan KTP saya, tapi tidak juga diindahkan. Kemudian saya langsung dipukul, diangkat kerah saya. Saya langsung dihajar, dipukul dan itu tidak dipukul pada wilayah-wilayah yang tidak mematikan, karena itu di wilayah kepala dan itu secara berulang kali,” * korban salah tangkap memberi penjelasan.

Benar – benar bukan merupakan tindakan yang baik yang dilakukan oleh aparat kepolisian, setidaknya mereka mengcek terlebih dahulu sebelum membawa dan menangkapnya. Karena disitu banyak sekali orang yang dimana kemungkinan orang itu tidak melakukan demo masih besar. Apalagi tindakan kekerasan yang dilakukan benar – benar aksi yang disayangkan sekali.

Watson

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *